Pengalaman di Pengungsian Jepang Saat Gempa Besar 2011

Gempa dan tsunami menghantam kawasan Tohoku pada 11 Maret 2011. Saya tinggal di Sendai, Miyagi di mana daerah tersebut menerima efek dari gempa itu. Saat kejadian, saya sedang tidak bersama suami. Akhirnya saling mencari sampai kami dapat bertemu. Setelah bertemu, kami pun segera kembali ke apartemen untuk mengambil beberapa barang yang akan di bawa ke tempat pengungsian. Tempatnya adalah aula SMP Sanjo yang jaraknya sangat dekat dengan rumah kami. Ketika itu salju sedang turun, alhamdulillah tidak perlu berjalan lebih jauh lagi. 

Kami membawa selimut dan menambah rangkapan jaket agar badan lebih hangat. Saat itu listrik, air, dan gas padam seketika sesaat gempa terjadi. Suhu di luar -2 derajat, hanya ada sisa makanan di rumah. Satu-satunya cara untuk menghangatkan badan dengan menambah jumlah baju (jaket) yang dipakai.

Kebetulan di dekat SMP Sanjo adalah komplek Tohoku University International House jadi mayoritas pengungsi di sana adalah warga internasional. Beberapa yang lainnya adalah orang Jepang. Kapasitas aula SMP Sanjo adalah 300 orang, sedangkan pengungsi yang datang ke sana kurang lebih 1000 orang. Bisa dibayangkan bagaimana keadaannya.

Hari-hari di pengungsian

Malam harinya beberapa gempa susulan yang cukup keras datang berkali-kali, tentu saja kami tidak bisa tidur karena harus tetap waspada. Ruangan gelap, dingin, dan diisi oleh banyak orang. Namun karena bersama-sama merasakan keadaan ini, membuat kami tidak ketakutan. Penyebaran tempat pengungsian orang Indonesia mayoritas terpusat di dua titik, yaitu SMP Sanjo dan SD Kunimi. Kami bisa saling share secara langsung bagaimana perasaan kami masing-masing. Itulah yang kami lakukan agar tidak meninggalkan trauma setelahnya. 

foto 2 [Suasana di pengungsian]

Siang harinya, persediaan makanan hanya mencukupi untuk 300 orang. Prioritas diberikan kepada anak-anak, lansia, dan ibu hamil. Kami harus mengusahakan makanan dan minuman sendiri. Ada nasi gempa (campuran nasi dengan wakame) satu porsi dibagi menjadi dua orang. Jangan dibayangkan porsinya besar. Namanya “nasi gempa” dengan segala keterbatasannya. 

foto 3Para relawan bekerja sangat keras. Mereka mengurus kami dengan sangat baik, semampu yang dapat mereka lakukan. Padahal mereka juga korban gempa. Semangat mereka benar-benar bisa kami rasakan. Melihat mereka, bisa ikut bersemangat dan yakin bahwa semuanya akan baik-baik saja. Setiap pagi kami mendengar radio dan koran-koran dibagikan kepada kami, agar informasi terbaru di daerah gempa dan tsunami bisa kami ketahui. Kami juga menuliskan nama dan asal negara agar dapat didata bahwa kami selamat.

foto 4Saat itu kami tidak banyak tahu bagaimana berita di tanah air maupun bagaimana memberi kabar ke sana. Semua alat komunikasi terputus kecuali internet smartphone. Kami pun menyiasatinya dengan mengatur jadwal menyalakan smartphone agar dapat mengirimkan data kami ke KBRI di Tokyo bahwa kami selamat. Smartphone yang ada bergiliran dinyalakan agar menghemat energi baterai. Hari selanjutnya makin memprihatinkan, anak-anak mulai sakit, air dan bahan makanan berkurang, para lansia juga makin lemah. Alhamdulillah tim dari KBRI datang di H+2 memberi selimut, makanan, minuman, dan masker kepada kami. Terima kasih KBRI!

foto 5

Kondisi di Sendai sangat lengang, malam harinya sangat sepi. Jika pernah melihat film G30 S-PKI zaman baheula, kurang lebih suasana malamnya seperti itu. Sepi dan mencekam. Serius! Tidak ada penerangan dan mencekam karena sering terjadi gempa susulan yang cukup keras. Sendai menjadi kota terisolasi.

Akses untuk keluar dan menuju ke kota Sendai tertutup karena ada ledakan reaktor nuklir di Fukushima (sebelah selatan kota Sendai). Tim KBRI yang berhasil masuk ke Sendai dengan perjuangan yang keras, mengambil rute memutar sangat jauh untuk menghindari Fukushima. Salut! Biasanya dari Tokyo ke Sendai bisa ditempuh kurang lebih 8 jam dengan mobil, namun saat itu menghabiskan waktu sekitar 14 jam mencapai Sendai. Alhamdulillah…

Selanjutnya, persediaan makanan semakin menipis bahkan tidak ada lagi makanan untuk usia 12 tahun ke atas sampai 60 tahun. Kami mengupayakannya dengan memasak sendiri. Ada rumah yang gasnya menyala tapi air mati, ada yang airnya ngalir tapi gasnya mati, ada yang mati semua, dan ada yang masih menyala kedua-duanya. Alhamdulillah di apartemen saya saat itu gas masih mengalir karena kami menggunakan prophane gas (bukan gas pemerintah) jadi masih bisa digunakan. Air juga masih mengalir. Alhamdulillah… toilet kami bisa dijadikan WC umum karena di tempat lain semua air tidak ada yang mengalir.

Kami memasak di dua tempat, sebagian di teman Indonesia yang gasnya mengalir tapi tidak ada air. Jadi semua saling bahu-membahu mengangkut air ke sana. Sebagian lagi memasak di tempat saya. Semua warga Indonesia dikerahkan. Ada yang tugas masak, ada yang bagian transportasi, ada bagian distribusi, ada bagian rekap data untuk dikirim ke pemerintah. Semua bekerja bersama-sama, bahwa kami tidak sendirian! Semangat orang Indonesia yang bisa dirasakan adalah semangat gotong royong. 

Kebakaran

Tiga malam sudah, kami berada di pengungsian. Jum’at malam (hari kejadian), Sabtu malam, dan Ahad. Pada hari Ahad sore, terjadi kebakaran di salah satu ruangan SMP Sanjo. Ruangan tersebut sangat dekat dengan tempat kami menginap. Kebakaran terjadi karena adanya hubungan arus pendek/korsleting, saat itu listrik baru saja menyala. Saat kejadian, saya sedang berada di rumah untuk menyiapkan beberapa barang. Tas kami semua masih ada di tempat pengungsian. Ketika mau mengambil, sudah banyak polisi siaga di sana dan kami dilarang masuk. Setelah api berhasil dipadamkan, hanya diperkenankan beberapa orang/perwakilan untuk mengambil semua barang yang ada di dalam. Mulai sore itu, pengungsian SMP Sanjo tidak bisa dipakai lagi. 

Tokyo

Warga Indonesia berkumpul di kaikan untuk menunggu bus jemputan ke Tokyo. Kami tidak tahu bagaimana keadaan teman-teman dari negara lain ketika SMP Sanjo tidak bisa dipakai lagi.  Kami berangkat ke Tokyo tepat pukul 23.00 JST. Kami diantar ke Balai Indonesia, Sekolah Republik Indonesia Tokyo (SRIT). Satu malam kami menginap di SRIT dan menyiapkan semua dokumen untuk pulang ke Indonesia. Di sana kami bertemu Dubes Indonesia dan reporter TV swasta Indonesia yang meliput berita tsunami dan gempa Jepang. Selasa pagi, kami menuju bandara Narita untuk kembali ke Indonesia.

foto 6

 [Sekolah Indonesia di Tokyo (SRIT)]

Jakarta

Penerbangan menggunakan Garuda Indonesia, sampai Soekarno-Hatta sore hari. Sesampainya di sana, kami melewati jalur khusus tanpa pengecekan keimigrasian (karena sudah dilakukan di pesawat).

Dari Soekarno-Hatta langsung menuju Kementrian Luar Negeri Indonesia. Di sana kami ditunggu oleh para keluarga dan bapak menteri LN. Setelah sambutan menteri selesai, kemudian serah-terima secara simbolis dengan keluarga. Acara selesai. Teman-teman yang akan pulang ke daerah pagi harinya, malam itu menginap di wisma haji. Sedangkan yang langsung pulang, bisa menuju ke rumah masing-masing. Saya kembali ke Bandung dengan penuh rasa syukur kepada Allah. Alhamdulillah… masih diberi kesempatan bertemu dengan keluarga. 

Mengutip kata Sensei suami dalam sebuah percakapan di akhir tahun 2011, bahwa hidup harus terus berjalan, tidak menjadikan bencana sebagai hambatan untuk berkarya.

Kolaborator: “Di US sebentar lagi libur dari 17 Desember s.d. 2 Januari. Saya harap kalian ambil waktu liburan untuk mengunjungi keluarga dan menghabiskan waktu bersama mereka. Setelah gempa dan tsunami, tahun ini adalah tahun yang berat bagi kalian di Jepang dan khususnya di Sendai. Saya berdoa yang terbaik bagi kalian untuk hari-hari selanjutnya.”

Sensei menjawab: “Terima kasih untuk sarannya. Kami punya waktu libur hanya dari 29 Desember hingga 3 Januari. Kami tidak punya waktu libur untuk natal sehingga kami akan terus bergerak sampai 28 Desember. Jika Anda punya data tambahan untuk kami tolong segera kirimkan dan kami akan terus bekerja selama Anda libur. Kami tidak lelah.

Semangat orang Jepang: Kami tidak lelah.

Mari kita bersemangat!

Fa inna ma’al ‘usri yusra

Inna ma’al ‘usri yusra

 (Surat Insyirah 5-6)

 foto 7

Ganbarou!!!

No hardship comes without relief. 

-RN-