Manajemen Bencana ala PPI Sendai: Belajar dari Gempa 11 Maret 2011

Tinggal di wilayah dengan sejarah kejadian gempa yang banyak, mengharuskan kami beradaptasi baik dengan guncangan kecil maupun besar dan sangat besar seperti yang telah kami rasakan pada 11 Maret 2011 yang lalu. Ada beberapa hal yang hendak kami bagi melalui tulisan sederhana ini, yaitu bagaimana kami, pelajar Indonesia di Tohoku University, Sendai, Jepang mengatasi ketidakpastian, mengelola keterbatasan, membangun komunikasi, dan tetap menjaga kondisi mental dan psikologi dalam kesempitan.

11 Maret 2011

Gempa besar mengguncang sekitar pukul 14.45 waktu Jepang atau pukul 12.45 waktu Indonesia, dengan episentrum 70 km timur Tohoku pada kedalaman sekitar 32 km. Gempa ini adalah salah satu gempa terbesar dalam sejarah Jepang dan termasuk dalam lima gempa terbesar di dunia sejak tahun 1990an.

Seperti latihan tanggap bencana yang biasa kami lakukan, maka ketika gempa besar terjadi kami harus berlindung dibawah meja untuk menghindari benda-benda besar yang terjatuh dari tempatnya dan menyebabkan luka di bagian kepala. Setelah gempa berlalu kami harus berkumpul di assembly point, kemudian melaporkan kondisi terkini serta kondisi teman-teman yang lainnya. Di assembly point sudah ada beberapa orang yang akan melakukan pendataan (absensi), mereka sudah ditentukan sebelumnya pada saat latihan tanggap bencana. Setelah selesai kami diperintahkan untuk meninggalkan kampus dan kembali ke rumah untuk kemudian berkumpul di lokasi pengungsian, tempat yang lagi-lagi sudah ditentukan sebelumnya. Biasanya berupa aula sekolah terdekat disekitar apato (apartemen tempat tinggal) maupun kaikan (dormitory-asrama mahasiswa) yang sudah siap dengan para volunteer yang akan bersedia membantu kebutuhan pengungsi.

Sebelum gempa besar ini datang, kami sudah menyiapkan tas darurat yang isinya adalah baju ganti, alat mandi, obat-obatan pribadi, makanan darurat, dan kebutuhan darurat lainnya. Namun demikian tidak setiap pelajar Indonesia menyiapkan tas darurat, sehingga beberapa masih harus kembali ke tempat tinggal masing-masing dan menyiapkannya dalam keadaan darurat bencana baru kemudian kembali lagi ke lokasi pengungsian. Karena setiap gedung harus diperiksa oleh pihak yang berwenang, apakah aman atau tidak untuk ditempati setelah gempa besar terjadi. Sambil menunggu hal tersebut semua warga harus berkumpul di lokasi pengungsian, agar menghindari jatuhnya korban jiwa jika aftershock (gempa susulan) datang dan menyebabkan hunian runtuh.

Malam Pertama di Pengungsian

Optimized all networks available!

Lokasi teman-teman pelajar Indonesia masih tersebar dan telepon cellular tidak dapat digunakan untuk saling berkomunikasi satu dengan yang lain. Namun koneksi internet masih tetap berjalan lancar, sehingga kami memutuskan untuk mencoba mengumpulkan informasi teman-teman pelajar lainnya dengan fasilitas social media seperti facebook, twitter, dan melakukan pembaharuan informasi melalui mailinglist PPI Sendai. Langkah ini amat bermanfaat terutama bagi pihak keluarga di Indonesia yang tentunya akan sangat khawatir dengan anggota keluarganya yang terkena dampak gempa di Sendai. Malam pertama kami lewati dengan melawan dingin dibawah nol derajat Celsius tanpa penghangat tubuh yang memadai bersama ratusan pengungsi lainnya, sambil terus memperbaharui informasi mengenai kondisi terkini serta lokasi teman-teman pelajar yang lainnya. Sampai saat ini situasi masih tenang dan terkendali.

 foto 1

[Situasi sebagian Pelajar Indonesia di Pengungsian (Foto: Sudirman)]

Hari kedua, 12 Maret 2011

Optimized the rest of all resources!

Malam pertama berhasil kami lalui, dan tibalah pagi hari kedua setelah gempa.

Kami masih belum mengetahui secara pasti dampak dari gempa besar tersebut, bahkan kami baru mengetahui kejadian tsunami dahsyat itu di pagi hari kedua ini, ketika para volunteer membagian surat kabar pagi hari kepada para pengungsi.

Pagi ini volunteer mengumumkan bahwa makanan hanya tersedia untuk balita dan usia lanjut, sementara air minum hanya disediakan sebanyak 250ml per individu setiap harinya. Kondisi toilet darurat sudah tidak layak pakai, ruangan pengungsian makin penuh sesak dengan pengungsi, karena berdatangan pengungsi dari berbagai lokasi. Kami ingat bahkan saat itu ada beberapa ABK (anak buah kapal) asing dari pelabuhan yang di evakuasi menuju lokasi pengungsian di Sanjomachi, masih lengkap dengan pakaian dinas kapalnya yang berwarna orange. Ketika kami bertanya kepada volunteer sampai kapan kami harus bertahan di lokasi pengungsian, mereka tidak dapat memberikan jawaban pasti.

Kami berpikir inilah saatnya untuk membuat tim darurat bencana. Tim terdiri dari tiga bagian utama: (1) tim konsumsi dan dapur darurat, (2) tim komunikasi, (3) tim evakuasi. Tim konsumsi bertugas untuk mendata bahan makanan apa saja yang masih tersisa di lemari pendingin para pelajar dan warga Indonesia, apato siapa saja yang masih terdapat gas yang tersisa (karena semua fasilitas otomatis shutdown ketika gempa besar terjadi untuk mencegah terjadinya second disaster; kebakaran misalnya) dan air bersih layak konsumsi yang masih mengalir. Untuk kemudian berkumpul dan memasak makanan, Alhamdulillah saat itu masih terdapat dua apato dimana kami masih bisa memasak dan mendapatkan pasokan air bersih, serta toilet yang layak pakai. Kami putuskan saat itu untuk membuat dua jadwal makan, yaitu siang hari dan malam hari dengan porsi yang lebih sedikit dan terbatas, karena hingga saat ini kami belum tahu sampai kapan kami harus berada di pengungsian. Perhitungan tim konsumsi saat itu, dengan sumberdaya makanan yang tersedia, kami masih bisa bertahan sekitar 1-2 minggu.

Saving power and energy!

Tim komunikasi membuat strategi dengan bergantian menyalakan smartphone, saat itu diputuskan hanya satu smartphone yang boleh aktif sampai batere-nya habis, baru kemudian menyalakan yang lainnya sesuai kesepakatan yang telah ditentukan, sementara yang lainnya harus dimatikan untuk menjaga sumberdaya informasi yang tersisa. Karena aliran listrik masih mati, sementara kami tidak mengetahui secara pasti kapan aliran listrik akan kembali tersedia. Perangkat elektronik seperti laptop/notebook juga dihemat agar dapat digunakan sebagai sumber energy untuk me-recharge kembali smartphone yang telah habis batere-nya.

Sementara itu tim evakuasi masih terus bekerja untuk mengumpulkan informasi mengenai keberadaan warga dan pelajar Indonesia lainnya yang masih terpisah. Kami berencana untuk mengumpulkan seluruhnya di satu titik agar pada saat evakuasi tidak ada yang tertinggal. Sumberdaya seperti mobil betul-betul bermanfaat untuk aksi ini.

Communication and trust building!

Malam pertama akhirnya tiba, dingin kembali datang dan kami menerima kabar bahwa tim KBRI (Kedutaan Besar Republik Indonesia) Tokyo akan segera datang dan meng-evakuasi seluruh warga Indonesia ke Tokyo untuk kemudian kembali ke Indonesia. Berita positif ini tentu saja membangkitkan semangat kami yang perlahan mulai hilang. Namun amat disayangkan ketika tim KBRI datang, kami malah diminta untuk bertahan di lokasi pengungsian dengan menuliskan apa saja kebutuhan yang diperlukan untuk bertahan. Beberapa warga merasa kecewa dan lobi-lobi pun terus kami lakukan. Malam kedua dilalui dengan berkoordinasi dengan tim KBRI di lapangan dan di Tokyo untuk dapat segera meng-evakuasi warga Indonesia. Membangun komunikasi yang positif dan sehat serta tetap menjaga rasa saling percaya amatlah penting di fase ini. Karena beberapa warga terlihat mulai emosional dan kelelahan dalam kondisi penuh ketidakpastian. Bahkan terdapat pelajar Indonesia yang cidera dan membutuhkan perawatan intensif, sehingga tidak mungkin dipaksa untuk bertahan.

Hari ketiga, 13 Maret 2011

Physical, mental, and psychological management!

Kelelahan yang sepertinya mulai memuncak telah menyebabkan para pengungsi tidak begitu responsive terhadap kejadian yang muncul. Alarm yang tiba-tiba berbunyi di salah satu gedung lokasi pengungsian tidak membuat para pengungsi keluar dari ruangan, sementara saya pribadi mengajak istri saya untuk segera keluar dari ruangan pengungsian. Benar saja, tiba-tiba terdengar suara ledakan dan membakar salah satu ruangan di lantai paling atas, kondisi ini menyebabkan situasi semakin emosional dan menegangkan. Semua pengungsi di-instruksikan untuk keluar dari ruangan segera tanpa sempat menyelamatkan apapun. Asap hitam tebal keluar dari ruangan yang terbakar dan seluruh pengungsi dijauhkan dari lokasi kebakaran. Beberapa menit kemudian datanglah pemadam kebakaran dan berusaha untuk segera memadamkan api agar tidak semakin membesar dan menjalar ke lokasi lainnya di sekitar lokasi pengungsian. Alhamdulillah api dapat tertangani dan beberapa jam kemudian pengungsi dipersilahkan untuk mengambil barang-barang yang tertinggal, namun tidak diperkenankan untuk kembali ke lokasi pengungsian.

Kami bergerak cepat dengan memindahkan titik berkumpul diruangan meeting kaikan Sanjo. Sementara warga asing lainnya bertebaran tanpa kepastian, mereka kesulitan karena tidak well-organized seperti warga Indonesia. Alhamdulillah di fase yang makin emosional ini kami mendapatkan kepastian waktu evakuasi ke Tokyo yaitu pada malam ini (13 Maret 2011). Makanan masih tetap dibagikan, dan bantuan mulai datang dari pihak Dompet Dhuafa dan PKPU Indonesia.

 foto 2

[Kebakaran di lokasi pengungsian (Foto: Sudirman)]

Support from the Embassy!

Tim evakuasi KBRI mengirimkan dua buah bus besar untuk proses evakuasi pada malam hari, anak-anak dan ibu-ibu mendapatkan prioritas kemudian diikuti para ayah. Alhamdulillah, kerjasama dan dukungan yang luar biasa cepat dari KBRI Tokyo pada akhirnya dapat meng-evakuasi seluruh warga dan pelajar Indonesia di Sendai, meskipun masih terdapat satu dua orang yang tertinggal dan masih terus ditelusuri keberadaannya oleh tim evakuasi KBRI. Alhamdulillah hasil kerjasama yang baik ini membuahkan hasil dengan ditemukannya pelajar Indonesia yang tertinggal rombongan utama yang telah lebih dulu di-evakuasi ke Tokyo.

 foto 3

[Tim evakuasi KBRI Tokyo (Foto: Sudirman)]

Kami tiba di KBRI keesokan harinya (14 Maret 2011), seluruh warga ditempatkan di aula SRIT (Sekolah Republik Indonesia Tokyo). Kepastian akan kepulangan ke Indonesia pun datang. Semua biaya pulang ke Indonesia sampai tempat tinggal di luar Jawa, serta kembali ke Jepang lagi, akan ditanggung oleh pemerintah. Selama kami di SRIT dukungan penuh diberikan oleh KBRI, PPIJ (Perhimpunan Pelajar Indonesia Jepang) dan seluruh warga Indonesia di Tokyo, Alhamdulillah.

Hikmah

Dalam keadaan darurat bencana amatlah penting mendata bagaimana kondisi warga dan pelajar Indonesia lainnya dan dimana lokasinya, disini kami memanfaatkan fasilitas sosial media yang masih tetap dapat diakses, karena sambungan telepon semuanya terputus.

Membangun tim darurat bencana adalah solusi cerdas dalam upaya tetap mendukung keberlangsungan hidup dalam ketidakpastian. Menjaga emosi agar tetap stabil dan membangun komunikasi yang sehat juga sangat penting.

Hal lainnya yang tidak bisa dikesampingkan adalah dukungan penuh outsiders. KBRI, Perhimpunan Pelajar Indonesia Jepang, Dompet Dhuafa, PKPU, dan seluruh warga Indonesia di Jepang dan Indonesia tentunya memerankan fungsi yang tidak kalah utamanya dalam kondisi darurat bencana.

Kejadian gempa besar ini telah memberikan kami banyak sekali pelajaran penting dan hikmah yang luar biasa. Kita memang tidak bisa menghindari gempa, namun kita bisa menghadapinya jika kita bersatu, bekerja bersama dengan menjaga silaturahim dan memupuk terus ikatan persaudaraan diantara sesama warga dan pelajar Indonesia. Bila kita coba menarik untuk ukuran yang lebih besar, Indonesia misalnya, kita bisa tumbuh menjadi bangsa yang besar jika sesama anak bangsa bahu membahu bekerja dengan menyingkirkan perangkat-perangkat yang tersemat didada masing-masing. Bersatu dan bekerja tidak untuk satu golongan tertentu, lebih-lebih untuk meraup keuntungan pribadi, tetapi untuk Indonesia!

Kontributor: Fatwa Ramdani