Magnitudo 9.0

Sebelumnya

Gempa besar di wilayah Miyagi memang sudah diperkirakan akan terjadi sejak beberapa tahun lalu, siklus 30 tahunan katanya. Belum juga terjadi di tahun-tahun sebelumnya, probabilitas gempa besar meningkat hingga lebih dari 90% di tahun 2011.

Rabu, 9 Maret 2011, saya sedang bertugas di seminar yang diadakan oleh grup riset kami. Sekitar tengah hari, saya sedang di luar ruang seminar menelpon suami untuk memastikan dia sudah makan siang ketika lantai gedung yang saya injak mulai terasa bergoyang-goyang. Jepang memang negara gempa, tapi yang kali ini lebih besar dan lebih lama dari biasanya. Sambungan telepon terputus, dan tak lama tersiar berita bahwa gempa berkekuatan M 7.2 baru terjadi di utara pulau Honshu. Setelah itu gempa kecil makin rutin terjadi, lebih dari 3 kali sehari. Di rumah, koper darurat sudah disiapkan oleh suami. Koper ini berisi dokumen penting (paspor, alien card, dll), baju ganti dan obat-obatan. Suami saya bilang, ada kemungkinan gempa besar akan segera terjadi. Saat tidur pun kami sudah bersiap dengan pakaian lengkap jika sewaktu-waktu harus tiba-tiba lari, berkali-kali terbangun karena gempa yang lebih kencang dari biasanya.

Tiga menit terlama

Jum’at, 11 Maret 2011, sekitar pukul 14.40, langit gelap dipenuhi awan. Saya sedang berada di perpustakaan engineering lantai 2, bersama suami dan seorang teman. Tepat ketika kami membereskan barang hendak kembali ke laboratorium, lantai mulai bergoyang pelan. Saya bersiap lari saat suami menginstruksikan kami untuk segera sembunyi di bawah meja. Dan gempa besar pun terjadi, magnitude 9.0 kemudian diketahui. Beruntung saya segera ditarik ketika mau lari. Di atas M 7, kondisi berjalan apalagi berlari malah semakin membahayakan diri, bisa-bisa malah patah kaki.

Di hadapan saya ada jendela kaca tinggi, terlihat jelas pohon, jalan dan gedung-gedung di hadapan bergoyang kencang, seperti mainan di atas karpet yang sedang dikibaskan. Di belakang saya, buku-buku tebal berjatuhan dari raknya. Gempa memelan sesaat, lalu bertambah kuat. Semakin banyak buku jatuh, semakin keras suara gedung bergoyang-goyang. Tidak ada lagi yang bisa kami lakukan di bawah meja, bertiga berdzikir dan beristighfar. Tiga menit yang terasa sangat lama, sangat-sangat lama. Saya hanya terus berdoa agar mejanya tidak sampai ambruk, agar lemari buku tidak sampai jatuh menimpa, agar gedungnya tetap berdiri, agar gempanya segera berhenti.

Pascagempa

Bersyukur sekali saya sedang besama dengan suami, karena segera setelah gempa jaringan komunikasi terputus. Saya kembali menuju gedung fakultas untuk melaporkan diri bahwa saya selamat, begitu prosedurnya jika terjadi bencana. Belum ada yg diperbolehkan masuk ruangan, karena gempa susulan masih sering sekali terasa. Tak lama kemudian, salju turun sederas-derasnya disertai angina kencang. Salju yang lebat, listrik yang diputus, aliran air mati, langit gelap; begini ya, mencekamnya pasca bencana.

Selesai didata, semua murid dan staf diinstruksikan untuk segera pulang sebelum gelap, masih dalam kondisi salju turun deras dan bis umum tidak beroperasi. Berjalanlah kami menuju rumah, sekitar 3 kilometer, sambil dingin dan masih takut gempa susulan. Di kondisi itu, kami menyempatkan mampir ke kombini (toko kecil yang menyediakan kebutuhan sehari-hari) untuk membeli bahan makanan dan minuman seadanya. Saya terpana mendapati bahwa di kombini yang sesak dan hanya berpenerangan cahaya senter, orang-orang masih mengantri rapi. Harga barang normal walaupun stoknya sudah sangat terbatas. Orang-orang terlihat tenang walaupun gempa susulan masih hampir 10 menit sekali. Ah, mental mereka memang hebat.

Sampai di depan gedung asrama, rumah kami di lantai 2 ternyata tidak boleh dimasuki. Masih berbahaya kata penjaganya. Kami harus bermalam di pengungsian.

Tiga hari dua malam saya berada di Aula SMP Sanjomachi, refuge center untuk daerah sekitar rumah saya. Di Jepang, di setiap kisaran wilayah tertentu sudah ditentukan refuge center untuk tempat evakuasi darurat saat terjadi bencana.

Malam pertama di pengungsian

Kami tiba di pengungsian menjelang Maghrib, saat hari sudah mulai gelap dan salju masih saja turun. Bertemu dengan beberapa orang Indonesia lainnya, kami berkumpul di satu sisi ruangan. Satu-satunya jaringan komunikasi yang masih bisa digunakan adalah internet dari telepon seluler. Malam hari itu, dengan segala keterbatasan, suami saya dan beberapa teman laki-laki lainnya mulai mendata keberadaan orang-orang Indonesia yang ada di Sendai, kondisi dan lokasinya.

Saya berusaha tidur setelah segala kelelahan di hari itu, berkumpul bersama teman-teman perempuan, ibu-ibu dan anak-anak. Gempa susulan masih terus terjadi, dan dalam kondisi trauma goyangan kecil pun rasanya menakutkan. Saljunya berhenti waktu malam tapi dinginnya masih bertambah, kami semua bertahan dengan selimut seadanya.

Hari kedua

Kabar yang saya dapat di pagi hari adalah bahwa suami saya dan teman-teman lainnya sudah berhasil mengontak tim KBRI, mengabarkan bahwa kami selamat dan sedang berada di pengungsian. Pagi itu kami masih dapat jatah sarapan, nasi instan dicampur rumput laut, tanpa garam. Itu adalah jatah makan terakhir bagi kami, karena setelah itu makanan hanya disediakan untuk anak-anak di bawah usia 12 tahun dan lansia di atas 75 tahun. Jatah air bersih adalah 250 ml untuk setiap orang, dibagikan 2 kali sehari, pagi dan sore. Sejenak jauhkan saja keinginan untuk mandi.

Suami saya, yang kemudian bertugas menjadi koordinator, memutuskan membentuk dapur umum untuk orang Indonesia, mengumpulkan bahan makanan yang masih tersisa di rumah masing-masing, setidaknya biar kami dapat terus makan walaupun seadanya.

Tim volunteer membagikan surat kabar pagi itu, dengan gempa kemarin sebagai headline-nya tentu. Magnitude 9.0 rupanya, tak jauh dari besarnya gempa tsunami Aceh yang menewaskan ribuan orang. Dari foto-foto yang ditampilkan di surat kabar, barulah saya sadar seberapa serius kerusakan yang disebabkan gempa kemarin. Sekedar belum bisa pulang atau tidak ada listrik dan air, tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kerusakan di daerah yang tersapu tsunami.

Kondisi pengungsian, adalah seperti yang biasa dilihat di televisi. Begitulah, barak luas dengan ratusan atau seribu lebih manusia di dalamnya. Tanpa penerangan dan penghangat ketika malam hari, dengan 4 toilet darurat untuk sekian banyaknya pengungsi.

Menjelang sore, tersiar kabar bahwa tim KBRI sudah dalam perjalanan membawa bantuan, tapi tertahan di Fukushima. Ledakan nuklir, rupanya bencana belum berhenti. Tapi setidaknyakami masih sangat beruntung, KBRI bergerak cepat dan sigap. Warga negara lain ada yang bercerita, mereka sudah berusaha menghubungi kedutaan negaranya tapi nihil, tidak ada tanggapan. Satu malam lagi dilewati di pengungsian.

Hari ketiga

Berada di pengungsian itu boros energi dan boros emosi, begitu kesimpulan yang saya ambil. Fisik lelah karena tidak bisa beristirahat dengan optimal, psikis pun tidak stabil karena kondisi yang tidak menentu. Entah berapa lama lagi kami harus bertahan di situ, entah kapan gempa susulan akan berhenti, entah kapan kondisi normal kembali. Untunglah pagi itu keputusan sudah diambil; evakuasi ke Tokyo, malam itu juga.

Sepanjang hari persiapan dilakukan, terutama mengumpulkan orang-orang Indonesia yang ada di Sendai. Menjelang sore, saya sedang membantu pendataan orang-orang Indonesia yang akan dievakuasi ketika bunyi alarm tiba-tiba nyaring terdengar. Entah peringatan apa, tapi seingat saya bunyinya berbeda dengan peringatan gempa. Mungkin sudah terlalu lelah atau terlanjur apatis, sebagian besar pengungsi masih tetap diam di ruangan, sementara saya diajak suami untuk segera keluar. “Pasti ada apa-apa”, katanya.

Saya melihat sekeliling karena ingin tahu apa yang terjadi, lalu DUAARR! Bunyi ledakan dari lantai tertinggi gedung sekolah di sebelah pengungsian. Kebakaran. Kepanikan lagi. Orang-orang berlari, asap hitam membumbung tinggi. SMP Sanjomachi tidak aman lagi untuk pengungsian, tidak boleh lagi kami berdiam di sana, semua orang harus pindah dan mencari lagi tempat pengungsian lainnya. Masih belum berhenti energi dan emosi kami diperas rupanya.

Tapi lagi-lagi kami masih sangat beruntung, setidaknya masih ada yang mengkoordinasi walaupun sulit rapi, masih ada keteraturan di kondisi yang semrawutan, masih ada yang mau bekerja lebih untuk kepentingan bersama. Juga karena tim KBRI bergerak sigap (lagi), malam itu juga kami meninggalkan Sendai.

***

Catatan akhir

Satu malam kami diungsikan di Sekolah Republik Indonesia Tokyo, hingga akhirnya dievakuasi ke Indonesia keesokan harinya dengan biaya ditanggung pemerintah RI. Yang paling saya syukuri dengan kepulangan itu adalah bahwa kami bisa bertemu dulu dengan mereka yang paling mengkhawatirkan kondisi kami setelah bencana, walaupun hanya untuk sekedar bilang kami baik-baik saja.

Di prefektur Miyagi saat ini, hampir 2 tahun sejak gempa besar itu, kondisi di tempat-tempat yang terkena tsunami masih terus diperbaiki. Masyarakat yang semula tinggal di pesisir pantai dan kehilangan tempat tinggal kini diberi bantuan oleh pemerintah, sekaligus didorong untuk kembali menggerakkan roda ekonomi. Sudah sering terdengar cerita tentang karakter orang Jepang yang pantang menyerah dalam bekerja. Yang saya lihat saat beberapa kali saya mengunjungi masyarakat Jepang di tempat yang terkena tsunami, rupanya keteguhan untuk berjuang itu bukan sekedar kisah.

Kontributor: Putri Setiani