FESTINA 2012: Japan, we are with you
Sekilas FESTINA 2012 Alhamdulillah, pada hari Sabtu, 7 April 2012, pukul 18:00 – 21:30 JST, bertempat di Sendai Fukushi Plaza, PPI Sendai bekerja sama dengan...
Hari Sabtu, 28 Mei 2011, PPIS kembali melakukan kegiatan takidashi (menghidangkan makanan) di daerah pengungsian korban tsunami untuk menyalurkan dana dari PPI Jepang dan Wahdah Islamiyah. Kali ini tempatnya adalah di Shichigahama, di antara daerah Tagajo dan kota pelabuhan Shiogama di sebelah timur Sendai. Informasi keberadaan tempat pengungsian ini diperoleh dari Pak Rudi, warga Indonesia yang sudah lama bermukim di Tagajo. Beliau sendiri sempat menjadi saksi mata kedatangan tsunami ke rumahnya. Bahkan ketika hendak menyelamatkan mertuanya (orang Jepang) harus menerjang air banjir sambil menggendong sang mertua di tengah akhir musim dingin saat terjadinya tsunami. Mengharukan ne…
Anggota tim dari PPIS yang berangkat di antaranya Pak Hari, Pak Atas, Pak Eko, Kei Nishikawa, Alfian, Adam, Ridwan, Tyas, Riyan, dan Hamzah. Kami didampingi pula perwakilan dari Wahdah Islamiyah, yaitu Pak Topan. Sebelumnya semua anggota tim terlebih dahulu memasak di rumah Bu Fajar dan Bu Harsini. Kami berangkat sore-sore, sekitar jam 3. Perjalanan dari Sendai ke Shichigahama memakan waktu sekitar 50 menit, melewati Tagajo dan Shiogama. Daerah ini benar-benar di pinggir laut, sehingga tidak mengherankan jika apa yang terlihat di perjalanan hanyalah puing-puing bangunan saja.

[Puing-puing di daerah Shiogama]
Tempat pengungsiannya sendiri berada sedikit naik ke bukit kecil di pinggir laut. Dilihat dari bangunannya, tempat ini sepertinya dulu berupa hotel yang kemudian beralih fungsi untuk menampung para pengungsi, karena tampaknya ini satu-satunya bangunan besar yang selamat di daerah Shichigahama.

[Peta sekitar tempat pengungsian (pin kuning) di Shichigahama.]
Setelah sampai di tempat pengungsian dan memberikan salam kepada koordinator di sana, kami pun langsung bersiap. Untuk menyiapkan 200 porsi, kami membutuhkan waktu sekitar 1 jam, tidak terlalu lama karena sudah cukup pengalaman berkali-kali melakukan takidashi. Semuanya bisa diselesaikan sekitar jam setengah 6. Anggota tim cukup cekatan melaksanakan perannya masing-masing. Ada yang bagian menghangatkan nasi goreng, membagikan telur dadar, mengiris timun, dan membungkus ke dalam wadah bento. Setelah dihitung ulang tapi kami hanya berhasil membuat 199 porsi.
Ups! Mudah-mudahan saja semua pengungsi kebagian.

[Persiapan nasi goreng di pengungsian Shichigahama]

[Salah satu sponsor takidashi kali ini adalah Wahdah Islamiyah.]
Pada saat persiapan nasi goreng, rupanya ada pertunjukan kesenian Bali untuk menghibur para pengungsi. Berdasarkan informasi dari koordinator pengungsian, ternyata hari itu adalah hari terakhir bagi 140 pengungsi yang sudah bisa pindah ke rumah sementara, sedangkan untuk 60 pengungsi sisanya masih akan tinggal di tempat tersebut sampai rumahnya siap ditempati. Jadi pertunjukan tersebut diadakan sebagai perpisahan bagi pengungsi yang akan pindah ke tempat baru. Satu hal yang membuat kami cukup tercengang, ternyata para penampil kesenian tersebut hampir semuanya orang Jepang!

[Penampilan kesenian Bali]
Tepat setelah penampilan kesenian Bali tersebut usai, Pak Hari kemudian maju ke podium untuk “mempromosikan” nasi goreng lezat yang sudah disiapkan. Para pengungsi kemudian bersemangat menyerbu nasi goreng. Alhamdulillah ternyata tidak kurang, semua orang bisa dapat (semoga).
Atau jangan-jangan ada yang malu-malu tidak mengambil tapi kami tidak tahu, hehe…

[Nasi goreng yang sudah siap]
Akhirnya kami pulang setelah pamit pada semua orang di pengungsian, tapi sempat singgah dulu di tengah jalan ke Kappa Sushi untuk mengisi perut yang sudah keroncongan, dan tiba di Sendai lagi sekitar jam 9 malam. Otsukaresamadeshita!
No comments
Be the first one to leave a comment.