FESTINA 2012: Japan, we are with you
Sekilas FESTINA 2012 Alhamdulillah, pada hari Sabtu, 7 April 2012, pukul 18:00 – 21:30 JST, bertempat di Sendai Fukushi Plaza, PPI Sendai bekerja sama dengan...
Alhamdulillah hari ini, Sabtu 7 Mei 2011 akhirnya terlaksana juga kegiatan melayani pengungsi (takidashi) dengan masakan khas Indonesia, nasi goreng. Tempat takidashi yang pertama kalinya bagi PPIS ini adalah di Kessennuma, dengan menghidangkan 100 porsi nasi goreng. Anggota tim yang berangkat adalah Pak Arif Santoso, Pak Atas Pracoyo, Hamzah Fauzi, Jimmy Hadi, dan Adam Badra Cahaya. Sementara malam sebelumnya hari Jumat, tim masak yang terdiri dari Arif Hawe, Amelia, dan Riyan Budiman bekerja keras menyiapkan nasi goreng hingga tidak tidur semalaman, tapi semuanya tetap semangat!
Pagi hari perjalanan dimulai jam 7, berangkat lewat tol sehingga sampai Kessennuma lebih cepat, sekitar jam 10. Setelah berkoordinasi dengan pengurus shelter kemudian tim melakukan persiapan mencampur dan menghangatkan nasi goreng, lalu mengemasnya. 100 bungkus didapat, masih ada sisa, segera dibagikan ke pengungsi. Jumlah pengungsinya katanya 101 orang namun bungkusan yang dibagikan ternyata kurang. Yang belum kebagian, diberikan nasi goreng dengan menggunakan piring kertas yang disiapkan pengurus shelter. Total porsi yang dibagikan sekitar 110. Sementara para pengungsi makan siang, pengurus shelter memperkenalkan tim kepada para pengungsi. Mas Jimmy membantu dengan menjelaskan apa saja yang ada di nasi goreng tersebut. “Oishikatta… terimakasih…,” salah seorang pengungsi bilang begitu.

[Tim PPIS sedang membagikan nasi goreng]
Kondisi di lapangan sendiri, banyak sekali kapal besar yang terbawa ke darat, diantaranya bekas terbakar. Bekas-bekas rumah dan perabotan serta mobil korban tsunami dikumpulkan di pinggir jalan. Dari bekas air yang menempel di dinding, tsunami di daerah tersebut tampaknya sekitar 6-7 m. Beberapa daerah masih tertutup, dijaga pasukan beladiri sehingga kami tidak bisa masuk. Pengungsi mungkin orang-orang yang rumahnya hancur, beberapa rumah yang masih utuh kondisinya bersih, kaca-kacanya tidak pecah, mungkin sudah diperbaiki oleh yang punya. Aktivitas warga kelihatan sudah mulai normal, toko dan konbini sudah buka.
Untuk kondisi pengungsi, mereka ditempatkan di gedung olahraga sebuah sekolah (mungkin SMP/SMA). Di dalam gedung dibuat sekitar sepuluh tenda yang disusun menjadi dua baris di tengah ruangan searah memanjang, yang mungkin diperuntukan bagi keluarga untuk menjaga aktivitas mereka. Sisa ruangan disekat-sekat dengan kardus untuk sedikit menjaga privasi setiap pengungsi. Kardusnya seragam dan disusun dengan baik sehingga semuanya terlihat rapi. Disediakan pula telepon, televisi, ruang belajar bagi anak-anak, komputer (internet?) dan tempat pemeriksaan kesehatan. Anak-anak sebagian main sepeda di luar, sebagian main di dalam ruangan, dan sebagian membaca komik atau buku yang banyak disediakan oleh pengurus.
Sekitar jam 12.30 setelah kita minta izin shalat berjamaah di sana dan foto bersama sebagian pengurus, kita pun pulang. Mampir sebentar di konbini untuk beli onigiri, karena belum makan siang, lalu pulang menyusuri jalan di tepi pantai, tidak melewati tol. Bekas-bekas tsunami masih banyak terlihat, sebagian jalan masih ditutup. Dengan percaya diri kita susuri jalan-jalan kecil dengan berpedoman pada Google Maps dari iPhone. Alhamdulillah sampai di kaikan dengan selamat sekitar jam 6 sore, setelah semua iPhone baterainya habis.
Otsukaresamadeshita!
No comments
Be the first one to leave a comment.