FESTINA 2012: Japan, we are with you
Sekilas FESTINA 2012 Alhamdulillah, pada hari Sabtu, 7 April 2012, pukul 18:00 – 21:30 JST, bertempat di Sendai Fukushi Plaza, PPI Sendai bekerja sama dengan...
Hari Minggu 8 Mei, setelah malam sebelumnya dibantu oleh keluarga Ahmad-Ridwan, keluarga Alimansyar, keluarga Aunuddin, keluarga Fatwa, Dipta, dan Pak Ardi untuk masak-masak dan mempersiapkan perlengkapan, kami 5 orang (Pak Alimansyar, Kei Nishikawa, Alfian, Zufri, Haris) pergi ke Ayukawahama (kanjinya: 鮎川浜) di Ishinomaki-shi. Ayukawahama, kalau lihat di peta, adalah semenanjung yang sedikit terpisah dari pulau Honshu dan berupa pegunungan. Terima kasih kepada Pak Ucu Maksudi atas informasi perjalanan ke tempat ini, juga untuk Jimmy yang sudah menjadi penghubung, informan, dengan Endo-san sebagai koordinator sukarelawan di sana.
[Daerah sekitar Ayukawa, Ishinomaki]
Sekitar jam 7 pagi kami berangkat dari Sanjomachi Kaikan, tapi baru mulai meninggalkan Sendai sekitar jam 7.30 karena harus membeli beberapa perlengkapan yang kurang.

[Kei Nishikawa sebagai supir tim PPIS dan Haris sebagai komandan lapangan]
Setelah keluar tol di Ishinomaki, kami pergi menuju pelabuhan Ishinomaki. Mendekati laut, di kanan-kiri kami rumah-rumah dan lokasi belanja hancur. Awalnya kami pikir mungkin ini akibat gempa saja bukan tsunami karena walaupun tempat ini dekat pelabuhan, tetapi seharusnya terlindungi dari tsunami oleh Ayukawahama. Ternyata sewaktu jalan terus mendekati jembatan, kami lihat rumah-rumah yang tinggal atapnya saja atau rusak lantai bawahnya atau mobil-mobil dan kapal yang berada di tempat tak seharusnya, juga genangan air karena jalan amblas masih ada di sana. Ini berarti tsunami sampai ke tempat ini.

[Genangan air ketika menuju lokasi pengungsian]
Setelah melewati 2 jembatan (ada museum manga 漫画館 lho di tengah-tengah jembatan pertama), kami memasuki kawasan Ayukawahama. Karena berupa pegunungan, perjalanannya jadi berbelok-belok, tetapi walaupun tidak sempat minum antimo kami melihat hutan pinus di sebelah kanan dan laut di sebelah kiri, cantik banget!
Kurang lebih 1 jam perjalanan semenjak melewati jembatan, jam 10 kami tiba di lokasi oshika-sougou-shisho (牡鹿総合支所). Kalau dilihat dari kanjinya 鹿 (shika), tempat ini pastilah banyak rusa, tapi yang kami lihat hanya rambu peringatan “awas rusa lompat ke jalan”. Di sana kami disambut oleh Endo-san, yang ternyata eh ternyata dia itu anak muda (sekitar 30 tahun) berambut gondrong dengan mobil hitam ala bos yakuza. Sedikit cerita tentang Endo-san, dia ternyata bukanlah penduduk Ayukawahama, melainkan Yokohama, Tokyo. Tanggal 12 Maret waktu itu kebetulan dia rencana mau snowboard di daerah ini, tapi keburu ada bencana, terus entah bagaimana akhirnya dia nyangkut jadi bantu-bantu di tempat ini sampai sekarang.

[Bersama Endo-san (paling kanan), koordinator sukarelawan]
Tempat pengungsian di Ayukawa berupa gedung kantor bertingkat 4 atau 5. Sayang sekali kami tidak sempat melihat langsung kondisi ruangan pengungsian karena ini pertama kalinya (untuk seluruh anggota tim) berkunjung ke daerah bencana, jadi agak-agak bingung mau apa di sana selain menyajikan nasi goreng. Kami langsung saja menyajikan makanan setelah sebelumnya aisatsu 挨拶 (mengucapkan salam) kepada Nakamura-kachou, yang memimpin tempat pengungsian ini.
Dengan Pak Alimansyar sebagai chef utama yg menghangatkan dan mengaduk nasi goreng + ayam + udang yang sudah dipersiapkan sebelumnya, Kei sang supir sebagai pemotong timun, Zufri sebagai penakar porsi nasi goreng (kebanyakan isinya Jup!), Alfian sebagai penata timun + telur, dan Haris sebagai tukang paket yang memberi karet + sumpit, kami menyajikan paket nasi goreng ini mulai jam 11.30 hingga 12.30 kepada 92 orang pengungsi. Lagi-lagi, kami tidak bisa ketemu langsung dengan 92 pengungsi tersebut karena hanya beberapa org saja yg turun ke lantai 1 dan mengambil sekaligus banyak untuk keluarga/temannya.
Target kami awalnya adalah membuat 100 porsi nasi goreng dan sudah dipersiapkan untuk 110 porsi, tapi jadinya hanya 92 porsi. Tapi tenang, bukan karena nasi gorengnya menyusut selama perjalanan ataupun selama masak, memang ternyata ukuran 1 porsi menggunakan nasi putih yang kami ukur semalam ketika memasak di Sendai berbeda dengan ukuran 1 porsi nasi goreng yang sudah jadi. Kumpulan nasi putih lebih banyak rongga ketimbang kumpulan nasi goreng yang lebih padat. Benkyou ni narimashita.

[Beraksi menyiapkan nasi goreng]
Sekitar jam 12, kami masih sibuk menyiapkan nasi goreng, yang antri sedikit sih tapi pesenannya banyak, hingga akhirnya tak sadar kami lupa menyisihkan beberapa paket nasi goreng untuk Endo-san dan Nakamura-kachou, gomen ne…
Selesai membagikan paket nasi goreng dan bersih-bersih, kami berniat melihat-lihat dulu sebentar ke daerah barat, tapi sayang baru sekitar 3 menit dari tempat pengungsian, jalan untuk mobil ditutup. Jadi kami urungkan niat tersebut sehingga segera saja kembali ke Sendai untuk mengisi perut.
Tsukaretta kedo, tanoshikatta wa…
No comments
Be the first one to leave a comment.