Pesona Indonesia dalam Tohoku University International Festival

Jurnalis: Muhammad Rifqi, Foto: Anton Timur Jaelani

Di bawah matahari terik, di lapangan yang biasanya sepi depan Hagi Hall, sekitar jam 9 pagi, sudah ramai berkumpul panitia-panitia TUFSA (Tohoku University Foreign Student Association) yang mengorganisir (konon katanya) event internasional terbesar di area Tohoku. Berdiri juga tenda-tenda putih yang menaungi aktivitas TUIF (Tohoku University International Festival). Panggung megah dimana performer dari berbagai penjuru dunia akan tampil terlihat sudah siap dengan gambar 4 tokoh anime yang khas Jepang sekali tetapi 4 tokoh tersebut memiliki warna kulit yang berbeda menjunjung tinggi perbedaan itu indah. Padahal baru saja kemarin (Sabtu, 21 Mei) waktu gladi resik, latar belakang panggung digambar rough sketch dengan tangan oleh dua panitia TUFSA. Sasuga sekali panitia TUFSA!
 
Tahun ini Indonesia mengisi dua stand, Play Together dan Food Stall. Keduanya didekor dengan apik oleh tim dekor PPIS. Tidak ketinggalan juga mie bakso bulet-bulet pakai bihun dan mie kuning dari tim masak PPIS, yang sudah repot-repot merencanakan teknis hari H, menyiapkan jauh hari bahan-bahannya, menyiapkan pembagian tugas jaga stand dll sehingga di hari H ini masak-memasak dimulai dengan lancar. Di stand Play Together, disiapkan beberapa angklung siap pakai tinggal goyang, dengan maksud peserta acara dapat langsung merasakan bagaimana memainkan angklung sampai melodi menyatu.
 
Pemandangan sibuk ini sudah terlihat dari jam 9 pagi, acaranya baru mulai jam 11 lho!
 
Di sisi lain, para penari yang mengisi acara di panggung, sudah terhimpun di ruangan lab sdr. Yuni. Performer Tari Merak, 3 beautiful ladies, Dini, Mega dan Lia, sudah mulai didandani Anis. Tari Merak menjadi prioritas karena Tari Merak akan tampil pertama! Pasti beautiful ladies kita deg-degan ya. Proses dandan-mendandani ini bukan hal remeh dan gampang, tekanan tinggi dari waktu pun menghantui penari-penari, karena bukan hanya penari Merak saja yang harus didandani tetapi juga penari Saman, wanita-wanita kece 11 kepala. Skenario peniti yang kurang dan blush yang ketebalan pun acap terjadi.
 
Ketegangan menerkam ketika telpon dari Akmal, panitia TUIF, memberikan reminder keras karena Tari Merak sudah harus stand by di dekat panggung. Dengan keadaan panic diburu waktu, three beautiful ladies kita berlari sekitar 100 meter atau lebih, full make-up dan aksesoris. Matahari yang terik dan probabilitas makeup luntur aksesoris copot tidak mereka indahkan!
 
Dengan ketegangan seperti itu pun, tim Tari Merak berhasil membawakan tarian dengan ayu penuh senyum. Terima kasih, three beautiful ladies kita!

 

Dini-Mega-Lia. Tim Tari Merak, three beautiful ladies PPIS!
Dini-Mega-Lia. Tim Tari Merak, three beautiful ladies PPIS!

 

Ketegangan di ruang penari masih berlanjut sebab penampilan selanjutnya dari Indonesia adalah angklung dan pemain angklung yang wanita semuanya adalah penari, maka penari yang pemain angklung didandani terlebih dahulu. Ketika semua penari siap pentas, satu per satu meninggalkan ruangan dengan keadaan seperti semula.
 
Stand Indonesia yang ditandai gambar mie ayam dengan mangkuk ayam jago lengkap dengan tulisan “Indonesia” yang mencolok sehingga tidak mungkin dilewatkan oleh pengunjung, bendera Indonesia dan payung ala Bali, tidak pernah sepi, walaupun orang jarang mengantri.

 

Dekor stand Indonesia, cetar sekali!
Dekor stand Indonesia, cetar sekali!

 

Ketika sudah mendekati waktu untuk penampilan angklung, dengan sigapnya penampil angklung mengambil angklung masing-masing, membawa stand partitur dan memposisikan diri di sebelah panggung. Di bawah tenda putih, penampil menunggu giliran sambil mendengarkan lagu sepoi-sepoi diiringi gitar oleh performer dari Venezuela (sebenarnya penulis tidak tahu dari negara apa tapi sepertinya negara latin).
 
Dengan senyum lebar dan angklung di kanan, pemain angklung mengisi panggung dan memulai penampilannya. Lagu yang dibawakan adalah medley lagu daerah Indonesia diantaranya: Ampar-ampar Pisang, Si Patokaan, Yamko Rambe Yamko, Ayo Mama dan diakhiri dengan Chibi Maruko Chan. Lagu medley tersebut diiringi aransemen musik dari bung Theo.
 
Giliran selanjutnya yang menunggu adalah performer Saman. Walaupun jeda dari performance angklung ke performance saman sangatlah sebentar, performer Saman banyak yang menghabiskan waktu sebentar tersebut untuk mengisi perut. Rupanya, dandan merupakan hal yang menghabiskan tenaga ya. Ketika waktu tampil sudah dekat, gendang beserta pemainnya sudah mulai menempatkan diri di posisi masing-masing. Tibalah saatnya performance yang banyak pukul-pukul dan banyak teriak-teriak dimulai. Penonton antusias yang duduk lesehan di depan panggung menonton tari dari India pun masih belum singgah dari posisinya dan penonton performance saman jadi banyak (yey).

 

Adis-Anis-Siti-Fajar-Laila-Ana-Kinan-Vetty-Ratri. Performance Saman dari wanita kece badai PPIS
Adis-Anis-Siti-Fajar-Laila-Ana-Kinan-Vetty-Ratri. Performance Saman dari wanita kece badai PPIS
Akmal. Shekh yang juga merupakan panitia TUIF mengiri tari Saman dengan suara merdunya.
Akmal. Shekh yang juga merupakan panitia TUIF mengiri tari Saman dengan suara merdunya.

 

Suara tepukan tangan penonton menjadi tanda dari akhir perjuangan performer Indonesia di festival kali ini. Sayang sekali, untuk performer yang dilimpahi tiket hasil kerja keras tampil, jarang bisa semua tiket digunakan karena sudah banyak stand negara lain yang tutup.
 
Namun tidak demikian untuk stand Indonesia. Kekurangan mie untuk dijual tidak menghentikan penjualan stand Indonesia sebelum akhir festival. Penjaga stand dan koki-koki dengan sigap me-refill mie tersebut. Oleh karena itu di jam-jam terakhir stand Indonesia menjadi salah satu stand yang unggul dan dicari sehingga antrian pun terbentuk.
Stand play together Indonesia masih terlihat ramai mengajarkan Angklung pada pengunjung yang tertarik.

 

Bermain angklung bersama orang Jepang yang tertarik pada budaya Indonesia
Bermain angklung bersama orang Jepang yang tertarik pada budaya Indonesia

 

Akhir kata, terimakasih banyak untuk semua yang terlibat dalam melestarikan Indonesia di event bergengsi TUIF ini. Semoga di kemudian hari semakin banyak ketertarikan Jepang terhadap Indonesia yang diharapkan dapat berujung manis untuk Indonesia yang lebih baik. Otsukaresamadeshita!

 

image013