M. Nuh: “Indonesia Hebat”

Penulis: Hesky Hasdeo

ppis2016-kunjungan1
Bapak M. Nuh Memberikan Wejangan

Salah satu manfaat tidak langsung dari bersekolah di luar negeri adalah bertemu para pejabat. Beberapa kali bertemu orang yang berkesan bagi saya seperti Wapres, Bupati Bantaeng, dan terakhir adalah mantan Menteri Kominfo, Menteri Budaya dan Pariwisata, serta Mentri Pendidikan Nasional Bapak Mohammad Nuh. Gaya bahasanya terstruktur dengan urutan logika yang masuk akal. Bagaikan melakukan orasi ilmiah kepada orang-orang di pasar, bahasanyapun mudah dimengerti.

ppis2016-kunjungan2
Makan Siang Bersama di Kantin Kampus Aobayama

Pembicaraan dibuka dengan kenangan beliau semasa kuliah di Perancis. Merasa senasib dengan kami, mahasiswa perantau, Beliau menjalani masa studinya dengan banyak keterbatasan dan tantangan hingga akhirnya Tuhan mentakdirkan Beliau untuk duduk di jabatan penting untuk Bangsa. Ada tiga hal yang beliau sampaikan dalam wejangannya kepada kami.

Pertama, Indonesia akan menjadi bangsa yang luar biasa dalam 10 sampai 20 tahun mendatang. Mungkin banyak yang tidak percaya maupun pesimis dengan statement ini. Tapi coba kita tengok ke belakang. Tahun 1998, Indonesia terpuruk oleh krisis ekonomi. Banyak yang berpendapat, bangsa kita akan menjadi negara gagal. Namun dalam rentang 10 tahun, ekonomi Indonesia berangsur membaik bahkan masuk dalam 20 besar kekuatan ekonomi global. Kini GDP kita berada di urutan 16 di dunia atau di urutan 8 jika GDP dibandingkan dengan harga kebutuhan pokok (GDP-PPP). Indonesia sanggup berdiri mengatasi jatuh bangunnya krisis finansial dan kini sedang mempercepat pembangunannya.

Ada banyak faktor mengapa kita patut optimis menyambut Indonesia dalam 10-20 tahun mendatang. Salah satunya adalah bonus demografi atau titik optimal perbandingan jumlah penduduk produktif terhadap jumlah penduduk tak produktif. Pada tahun 2025-2035 akan menjadi titik kritis yang sangat menentukan masa depan bangsa kita. Bila kita melewatinya dengan berhasil, ditandai dengan anak muda yang berkarya dan produktif, Indonesia akan jaya pada umurnya yang ke 100, tahun 2045. Lebih penting lagi, keberhasilan melewati titik kritis itu bukan ditentukan oleh guru atau dosen kita, tetapi oleh KITA BRO!! Kita yang saat ini usianya 35 tahun kebawah, apa yang akan kita lakukan dalam 20-30 tahun lagi untuk bangsa kita?

Kedua, walau gerbong kereta Indonesia sendang menuju stasiun kejayaan di tahun 2045, namun banyak masyarakat yang kurang beruntung yang mungkin tidak tertampung dalam kereta itu. Tugas kita adalah mengajak sebanyak-banyaknya orang yang tidak beruntung, untuk masuk ke dalam gerbong itu bersama kita.
Pak Nuh menyebut, the best social manipulation is education (maaf jika salah istilah). Cara terbaik untuk membuat bangsa kita siap di tahun 2025-2035 adalah dengan pendidikan. Pendidikan sanggup mengentas kemiskinan dan memperbaiki kualitas sumber daya manusia (SDM).
Masalah pendidikan, tambah beliau, sebenarnya hanya dua: (1) keterjangkauan, bagaimana orang yang kurang beruntung bisa mendapatkan akses untuk masuk, dan (2) kualitas, setelah masuk bangku sekolah, bagaimana anak didik dipersiapkan menjadi SDM yang unggul.

Ketiga, tingginya angka Human capital index (HCI) Indonesia, terutama untuk usia dibawah 15 tahun. HCI ini adalah kuantifikasi seberapa besar potensi suatu bangsa yang dapat dimanfaatkan kedepannya terutama jika dimanfaatkan dengan baik. Bonus demografi dan HCI adalah energi potensial yang harus kita manfaatkan. Jika benar pemanfaatanya, akan menjadi energi kinetik yang menggerakkan kemajuan bangsa.

Seberapa besarkah gaya dorong yang kita butuhkan untuk menggerakkan roda bangsa? Kita sebut sebesar “critical mass”. Di Indonesia ada orang cerdas, ada guru, ada engineer, ada manager, ada leader, ada doktor, ada professor, dan ada semua yang kita butuhkan untuk maju. Namun demikian, kita belum memilikinya dalam kuantitas dan kualitas yang banyak sampai pada “critical mass”, itu sebabnya kita nampak belum bergerak. Jika sudah melewati “critical mass”, bangsa ini akan bergerak dan dipercepat.

Mohon maaf bila ada kesalahan dalam mengutip gagasan di atas. Semoga kalian merasa iri dengan saya karena tidak bertemu sosok inspiratif seperti Pak Nuh secara langsung. Namun demikian, ide untuk tetap positif terhadap bangsa kita harus kita jaga.
“Cinta Negeriku, kau bangkitkan semangat hidup selalu” -Chrisye

ppis2016-kunjungan3
Foto Bersama Seusai Acara