BuSet AHIRU Januari 2012
Alhamdulillah, BuSet AHIRU edisi ke-2 dapat diterbitkan pada 29 Januari 2012. Dengan mengusung tema “growing crystal”, buletin edisi kali ini diharapkan...
Tahun 2011 akan segera berlalu meninggalkan kita. Tahun ini memberikan banyak pelajaran, banyak kenangan yang takkan terlupakan, terutama bagi kita yang tinggal di Jepang, khususnya daerah Tohoku. Betapa tidak, pada tahun ini telah terjadi sebuah bencana besar, gempa dan tsunami Maret 2011 yang menjadi titik kritis negeri ini dan penduduknya. Akan tetapi, kita telah melihat sendiri masyarakat Jepang dengan semangat pantang menyerahnya dalam menghadapi krisis mampu memberikan teladan kepada seluruh dunia bagaimana caranya bangkit dari keterpurukan. Ketika catatan ini ditulis, hari ini tepat 7 tahun setelah gempa dan tsunami Aceh 2004 yang lalu. Dengan magnitudo gempa Jepang yang hampir setara, meski baru 10 bulan berlalu, kita tertinggal jauh dari Jepang dalam hal penanganan bencana.
PPI Sendai sebagai satu bagian kecil dari komunitas warga asing yang tinggal di Jepang bersama-sama mencoba berbaur dengan masyarakat Jepang. Pengalaman yang sangat berharga telah diperoleh warga PPI Sendai sepanjang tahun ini. Meskipun turut merasakan kepedihan yang dirasakan warga Jepang tatkala terjadinya gempa, tidak ada satupun warga Indonesia yang kapok melanjutkan tinggal di sini untuk terus menempa diri dan menuntut ilmu sebanyak-banyaknya. Oleh karena itu, catatan akhir tahun ini akan dimulai dengan sebuah kisah yang mengawali kiprah kepengurusan PPI Sendai periode 2011-2012, yaitu masa-masa sulit di bulan Maret-April 2011 hingga dimulainya kepengurusan PPI Sendai 2011/2012 secara resmi di bulan Mei 2011. Catatan kecil ini akan ditutup dengan cerita-cerita seputar kegiatan terkini yang telah diselenggarakan PPI Sendai.
Maret – April 2011: masa-masa sulit
Jumat, 11 Maret 2011, hari itu tampak seperti rutinitas biasa saja bagi sebagian besar warga PPI Sendai. Berangkat ke kampus dan sholat Jumat bagi yang muslim, lalu kembali ke kampus melanjutkan pekerjaan. Beberapa ibu-ibu PPI Sendai dan pelajar S1 yang sudah selesai kegiatannya di kampus mulai merencanakan kegiatan masak-memasak untuk pertemuan dwibulanan PPI Sendai yang sedianya akan dilangsungkan pada hari Minggu, 13 Maret 2011. Bulan ini adalah bulan perpisahan bagi beberapa warga PPI Sendai yang telah menyelesaikan masa studinya. Tentunya sangat menyenangkan dan memberikan kehangatan jika kita dapat berkumpul bersama menikmati saat-saat terakhir di Sendai dengan teman-teman. Semangat itulah yang akan dibawa sebagai tema pertemuan PPI Sendai, kehangatan di dalam musim dingin yang masih berlangsung.
Di tengah rutinitas aktivitas seperti itu, tiba-tiba saja sekitar pukul 2:46 siang (waktu Jepang) bumi terasa berguncang dengan getaran yang semakin lama semakin besar. Gempa besar rupanya menyambangi kota ini. Apakah ini gempa 30 tahunan yang selama ini ditunggu-tunggu warga Sendai dan Miyagi? Mungkin saja. Sayangnya kelak kita tahu bahwa ini bukan sekadar gempa besar dalam siklus 30 tahunan yang sebelumnya diperkirakan “hanya” akan terjadi pada kisaran magnitudo 7. Setelah terjadinya gempa ini kita mengetahui bahwa ia adalah gempa bermagnitudo 9, yang berarti 100 kali lebih destruktif dibandingkan perkiraan awal. Gempa ini mengguncang seluruh daerah Tohoku, tidak hanya Miyagi. Getarannya pun masih terasa sampai ke daerah Kanto di selatan. Kerusakan akibat tsunami yang dihasilkannya bahkan benar-benar di luar dugaan para ilmuwan. Daerah pantai timur Tohoku rata oleh tsunami.
Segera setelah terjadinya gempa, hampir seluruh warga Jepang maupun warga asing yang tinggal di Jepang menjalankan prosedur keselamatan yang telah ditentukan. Saat itu kami masih tidak mengetahui apa-apa tentang gempa tersebut maupun efek yang ditimbulkannya, masih sekadar menduga-duga. Alat komunikasi tidak bisa digunakan sama sekali. Kami berpikir positif semua akan baik-baik saja. Beberapa bangunan di kampus Tohoku University mengalami kerusakan dengan tingkatan yang bervariasi, mulai dari sekadar rapuh temboknya hingga yang paling parah adalah ada gedung yang terbakar. Warga PPI Sendai yang tersebar di berbagai gedung di kampus segera diinstruksikan untuk pulang oleh sensei agar dapat mengetahui kondisi keluarga maupun rekan-rekan lainnya.
Beberapa saat setelah terjadinya gempa, menjelang malam yang semakin dingin dengan turunnya salju, sebagian besar warga PPI Sendai sudah berkumpul di pengungsian sekitar Tohoku University International House, terutama di aula SMP Sanjomachi. Saat itu barulah kami mengetahui bagaimana efek dari gempa tersebut. Listrik mati total. Air dan gas dari kota tidak bisa digunakan. Hanya beberapa apartemen saja yang masih menyala pasokan air dan gasnya. Toko-toko habis stoknya diserbu warga Jepang yang membutuhkan untuk persiapan mengungsi. Sendai sudah seperti kota mati.

Dari berita di radio dan koran shubuh yang saat itu menjadi satu-satunya sumber informasi, kami mengetahui tsunami besar sudah menyapu pantai timur kota Sendai maupun kota-kota lainnya di daerah timur Tohoku. Setidaknya daerah 5 km dari pantai tersapu bersih oleh tsunami. Berita ledakan PLTN di Fukushima dan gempa susulan yang nyaris tiada henti setiap jamnya membuat suasana semakin mencekam. Hari-hari di pengungsian pun dimulai. Pertemuan dwibulanan PPI Sendai yang telah direncanakan akhirnya berubah menjadi pertemuan di pengungsian. Di saat-saat seperti inilah kebersamaan warga PPI Sendai sangat terasa, menyatu dengan warga Jepang maupun warga lainnya tanpa mengenal batas-batas etnis. Solidaritas kemanusiaan yang kemudian berbicara.

Untuk bertahan mengatasi lapar, minimalnya bagi warga Indonesia dulu, kami saling menyumbang bahan makanan yang ada di rumah masing-masing untuk diolah bersama-sama. Makanan dimasak di rumah salah seorang warga PPI Sendai yang gasnya masih menyala. Sementara itu air diambil dari rumah warga lainnya yang masih punya cukup pasokan. Makanan kemudian didistribusikan ke warga Indonesia di pengungsian setiap jam makan. Begitulah seterusnya selama 3 hari berturut-turut. Di selang waktu, kami berusaha mengabarkan kondisi kepada keluarga di Indonesia dan KBRI Tokyo melalui internet HP yang masih bisa digunakan.


Alhamdulillah, tim KBRI dan PPI Jepang yang dengan heroiknya menembus jalur Fukushima menuju Miyagi bisa mengevakuasi kami ke Tokyo pada hari Senin, 14 Maret. Bahkan esoknya kami diberi kesempatan untuk melepas sedikit lelah pulang ke Indonesia. Sebenarnya kami masih ingin turut membantu saat itu, tetapi memang kondisi tak memungkinkan jika seluruh warga PPI Sendai harus ditampung di Tokyo. Hampir seluruh warga PPI Sendai akhirnya pulang sementara ke Indonesia, namun ada juga yang memutuskan tetap tinggal dan menjadi relawan. Terima kasih kawan-kawan PPI Jepang! Terima kasih KBRI!
Tugas bakti sosial di wilayah bencana yang seharusnya diperankan PPI Sendai kemudian diambil alih PPI Jepang selama bulan Maret sampai dengan pertengahan April. PPI Jepang menyalurkan berbagai bantuan kepada korban yang membutuhkan di daerah bencana. Warga PPI Sendai pun berangsur-angsur kembali ke Jepang setelah beristirahat sejenak di Indonesia. Ada yang kembali dengan sangat segera di akhir Maret, ada pula yang menunggu sampai kondisi benar-benar stabil di pertengahan Mei. Semua saling berkomunikasi dan mengabarkan perkembangan terkini di kota Sendai. Daerah tengah kota yang tidak terkena tsunami bisa dikatakan sudah pulih total di awal Mei. Listrik, air, dan gas sudah mengalir lancar ke setiap rumah, kampus, maupun toko-toko. Pasokan barang kebutuhan sehari-hari pun sudah normal. Sayangnya, kabar baik ini hanya untuk daerah Sendai tengah. Daerah-daerah pesisir pantai masih terisolasi, korban tsunami masih tinggal di tempat-tempat pengungsian.
Setelah beberapa anggota inti PPI Sendai kembali dari Indonesia, peran PPI Jepang sedikit demi sedikit diserahkan kepada PPI Sendai untuk turun langsung ke daerah bencana. Penyaluran bantuan oleh PPI Sendai diawali pada 24 April 2011 ke daerah yang paling parah terkena efek tsunami, yaitu Minami Sanriku, kemudian mengunjungi WNI yang tinggal Higashi-Matsushima, dan silaturahim bersama para trainee di Ogawara. Cerita lengkapnya dirangkum di halaman berikut ini:
http://sendai.ppijepang.org/berita-ppis/penyaluran-bantuan-24april2011/

Mei 2011: akselerasi PPI Sendai
Kepengurusan PPI Sendai 2010/2011 sesuai jadwal direncanakan selesai di pertengahan Mei 2011. Pengurus lama segera mendiskusikan segala aspek rencana kerja PPI Sendai ke depannya untuk diemban kepengurusan baru. Dalam masa transisi ini, nyaris setiap pekan di bulan Mei, PPI Sendai mengunjungi berbagai daerah bencana untuk menggelar dapur umum, menyajikan nasi goreng spesial bagi para pengungsi, serta menyalurkan donasi ala kadarnya. Tercatat daerah-daerah berikut ini dikunjungi PPI Sendai di bulan Mei 2011:

Di sela-sela aktivitas sosial, PPI Sendai melakukan pergantian kepengurusan pada tanggal 14 Mei 2011:
http://sendai.ppijepang.org/berita-ppis/pertemuan-ppis-14mei2011/
Acara pertemuan diselenggarakan dengan sangat sederhana mengingat saat itu masih dalam masa-masa prihatin bagi masyarakat Jepang. Pengurus yang baru pun bergerak cepat dengan mempelajari hasil evaluasi dari kepengurusan yang telah lalu dan memulai kiprahnya dengan berbagai kegiatan seperti aktivitas sosial yang telah disebutkan, serta selanjutnya akan kita saksikan bagaimana PPI Sendai menjadi salah satu motor dinamika pelajar Indonesia di daerah Jepang Utara.
Juni – Juli 2011: PPI Sendai progresif!
Bulan Juni – Juli 2011 adalah masa-masa bulan madu bagi kepengurusan PPI Sendai yang masih seumur jagung. Di bulan Juni, satu aktivitas sosial masih sempat dilakoni warga PPI Sendai untuk memantau daerah bencana yang kami kunjungi berkali-kali, yaitu distrik Ayukawa, di Kota Ishinomaki. Alhamdulillah, kondisi daerah tersebut sudah sangat membaik dibandingkan 3 bulan sebelumnya. Kami sangat takjub melihat perkembangannya dalam waktu singkat:
http://sendai.ppijepang.org/berita-ppis/takidashi-ayukawa-25juni-2011/
Kegiatan bakti sosial PPI Sendai dan PPI Jepang juga didokumentasikan dalam sebuah video yang dibuat oleh program Heroes 2011 Japan: http://sendai.ppijepang.org/berita-ppis/heroes-2011-japan/
Di bulan Juli, berbagai variasi kegiatan khas PPI Sendai mulai disuguhkan bagi para warganya. Musim panas telah menghampiri kota Sendai. Acara barbeque (BBQ) pada 2 Juli 2011 dipilih untuk mengawali rangkaian kegiatan PPI Sendai di bulan tersebut:
http://sendai.ppijepang.org/berita-ppis/bbqppis-2juli2011/

Di pekan berikutnya, temu ilmiah internal PPI Sendai dilangsungkan dengan menghadirkan beberapa pembicara warga PPI Sendai yang telah menyelesaikan studinya:
http://sendai.ppijepang.org/berita-ppis/temuilmiah10juli2011/

Seperti tidak mengenal lelah, di pekan berikutnya lagi, beberapa “atlet” PPI Sendai sebagai bagian dari kontingen PPI Tohoku dalam Pormas PPI Jepang 2011 menempuh perjalanan 22 jam dari Sendai ke Tokushima di pulau Shikoku. Hasilnya tidak main-main, gelar JUARA UMUM berhasil direbut kontingen PPI Tohoku yang sebelumnya tidak diperhitungkan:
http://sendai.ppijepang.org/berita-ppis/ppitohoku-juaraumum-pormas2011/

Pada akhir bulan Juli 2011, sebuah bakti sosial yang menutup rangkaian kegiatan tanggap bencana PPI Sendai sebagai bentuk kepedulian terhadap korban tsunami dilakukan di Iwanuma, daerah pantai timur-selatan kota Sendai:
http://sendai.ppijepang.org/berita-ppis/takidashi-iwanuma-30juli-2011/
Agustus 2011: hibernasi musim panas
Bulan Agustus adalah puncak musim panas di Sendai. Bertepatan dengan bulan Ramadhan bagi warga muslim, tidak banyak kegiatan yang dilakukan warga PPI Sendai ramai-ramai di bulan ini selain acara buka bersama di setiap akhir pekan. Pun PPI Sendai tidak mengadakan acara khusus untuk memperingati kemerdekaan RI dengan pertimbangan agar tidak terjebak dalam seremoni sesaat, setiap waktu pun kita harus memanfaatkan kesempatan hidup kita sebaik-baiknya agar tidak menyia-nyiakan perjuangan para pahlawan kemerdekaan.
September – Oktober 2011: bulan budaya dan keakraban
Tidak salah jika menyebut September hingga Oktober 2011 adalah bulan budaya dan keakraban bagi warga PPI Sendai. Diawali dengan acara halal bi halal pada 3 September 2011 sekaligus perpisahan bagi warga PPI Sendai yang akan kembali ke Indonesia:
http://sendai.ppijepang.org/berita-ppis/halalbihalal-ppis-3sept-2011/

Selanjutnya, PPI Sendai berpartisipasi merepresentasikan Indonesia dalam Sendai World Fiesta 2011 pada 23 September 2011. Acara ini merupakan sebuah festival yang diselenggarakan Sendai International Center (SIRA) untuk membangkitkan kembali semangat penduduk Sendai pascagempa didukung dengan persahabatan lintas negara dengan tema “From Sendai with Love”. Festival ini juga sebagai bentuk perayaan 20 tahun SIRA. Dalam festival ini PPI Sendai menampilkan tari saman beserta stand budaya Indonesia. Pengunjung dapat menikmati bermain angklung dan melihat buku-buku serta pernak-pernik Indonesia:
http://sendai.ppijepang.org/berita-ppis/sendaiworldfesta2011/


Di awal bulan Oktober, PPI Sendai kedatangan beberapa warga baru dari Indonesia yang semakin menyemarakkan suasana kekeluargaan PPI Sendai. Untuk menyambut para warga baru, sebuah acara kumpul-kumpul sederhana berbentuk imonikai diselenggarakan pada 1 Oktober 2011:
http://sendai.ppijepang.org/berita-ppis/imonikai-wargabaru-okt2011/

Selain sebagai acara keakraban, imonikai ini juga dimaksudkan untuk menggalang kekuatan menjelang acara budaya yang lebih besar di akhir Oktober, yaitu Tohoku Kokusai Matsuri.
Alhamdulillah, pada 30 Oktober 2011, PPI Sendai dengan lancar mengikuti Kokusai Matsuri 2011. Jualan nasi goreng laku keras hingga 262 porsi. Stand budaya ramai dikunjungi dari awal hingga akhir festival. Penampilan tari likok pulo, angklung, dan pakaian adat Indonesia pun memukau para penonton:
http://sendai.ppijepang.org/berita-ppis/kokusai-matsuri-2011/






Sebagai hasil dari Kokusai Matsuri 2011, keuntungan besar diraup PPI Sendai. Keuntungan ini sepenuhnya didonasikan untuk program beasiswa PPI Sendai:
http://sendai.ppijepang.org/beasiswa-ppis/
Di awal bulan Oktober pun sebenarnya salah seorang warga PPI Sendai mengunjungi beberapa adik asuh program beasiswa PPI Sendai. Alhamdulillah semuanya sangat terbantu dengan keberadaan program ini. Mudah-mudahan seterusnya bisa tetap berjalan!
http://sendai.ppijepang.org/berita-ppis/silaturahim-adik-asuh-okt2011/

November – Desember 2011: menerobos batas
Bulan November dan Desember adalah masa-masa penuh inovasi dan terobosan bagi PPI Sendai. Beberapa karya dan pemikiran terbaik PPI Sendai tahun 2011 ditelurkan di periode ini, seperti buletin riset AHIRU, liga badminton-pingpong PPI Sendai, dan teori gesekan-kontribusi. Namun, sebelum peluncuran karya-karya dan pemikiran tersebut, tidak lupa warga PPI Sendai menyempatkan diri menikmati indahnya musim gugur di daerah Tohoku. Salah satunya pada 3 November 2011, PPI Sendai mengadakan rekreasi geotracking menjelajahi Omoshiroyama sampai ke Yamadera:
http://sendai.ppijepang.org/berita-ppis/geotracking2011-omoshiroyama-yamadera/
Sungai, hutan lebat dengan dedaunan yang berguguran, hingga puncak gunung berhasil ditaklukkan para peserta geotracking. Pengalaman yang sangat menyenangkan dan menambah erat persahabatan!
![]()
Dengan cara yang agak nyleneh, PPI Sendai kemudian meluncurkan dua produk penting tepat pada tanggal 20 November 2011, alias 20-11-2011. Produk pertama adalah liga badminton-pingpong yang dibuka di hari tersebut sebagai persiapan jangka panjang menghadapi pormas PPI Jepang tahun depan:
http://sendai.ppijepang.org/berita-ppis/pembukaan-ligappis-1112/

Produk kedua adalah buletin riset yang bernama BuSet AHIRU:
http://sendai.ppijepang.org/berita-ppis/buset-ahiru-perdana/

Khusus untuk BuSet AHIRU, PPI Sendai juga membuat video parodi khusus untuk menghibur para pembaca. Cita-cita dari penerbitan buletin ini adalah agar menjadi bacaan riset alternatif yang menyenangkan disertai guyonan khas warga PPI Sendai.
Selain badminton dan pingpong sebagai olahraga andalan PPI Sendai, para penggila sepakbola pun tidak ingin kalah menunjukkan tajinya. Tim sepakbola/futsal PPIS FC “Garuda Sendai” turut berpartisipasi dalam sebuah turnamen internasional yang melibatkan 8 negara pada 23 November 2011. Meskipun hanya berhasil menembus babak perempat final – ya iyalah, cuma 8 negara
– tim Garuda Sendai tetap pulang dengan kepala tegak setelah menahan imbang tim yang kemudian turun jadi juara. Mana lagi kalau bukan Jepang.
Simak liputan lengkapnya:
http://sendai.ppijepang.org/berita-ppis/internazionale-tohoku-2011/

Bulan November 2011 akhirnya ditutup dengan pertemuan dwibulanan PPI Sendai yang mengusung tema diskusi “kontribusi” pada 26 November 2011. Tema ini merupakan kombinasi yang klop dengan dua pertemuan sebelumnya yang berturut-turut bertemakan temu ilmiah dan silaturahmi. Dalam pertemuan ini disampaikan materi tentang pentingnya sinergi antara yang bekerja di luar negeri dan yang bekerja di dalam negeri.
Kontribusi dapat dilakukan sesuai dengan fungsi atau peran yang dapat dilakoni pribadi masing-masing. Jika memang akan lebih bisa berkontribusi terhadap indonesia ketika di luar negeri, lanjutkanlah. Tetapi jika memang akan bisa lebih berkontribusi ketika berada di indonesia, pulanglah. Ketahanan “material” (baca: individu personal) pun relatif antara satu material dengan material lainnya dalam menghadapi gesekan tertentu. Memang saat berada dalam proses “running in” cenderung akan mengalami gesekan yang lebih besar jika menginginkan hasil akhir Indonesia yang lebih “stabil” (gesekan rendah). Oleh karena itu, kita perlu selalu menguatkan diri untuk menghadapi gesekan yang besar dalam proses “running in” di sini.

Setiap selesai pertemuan, tidak lupa warga PPI Sendai selalu menyempatkan diri berfoto bersama:
http://sendai.ppijepang.org/berita-ppis/pertemuan-26nov2011-kontribusi/

Musim dingin yang panjang telah resmi dimulai pada Desember 2011. Salju perlahan menyelimuti Sendai. Kelanjutan kisah PPI Sendai masih seru untuk dinantikan. Tetap semangat dalam kebersamaan. Perjuangan belum usai, kawan!
がんばろうPPISendai! がんばろう東北!がんばろう日本!
Merdeka!!! (lho?)
Sendai, 24 Desember 2011
a.n. seluruh pengurus PPI Sendai 2011/2012
A. R. T. Nugraha